Pada mulanya,sebelum terbentuk menjadi sebuah desa ,Karanggedang merupakan alas (hutan) yang wingit. Pada masa itu,Kerajaan Singosari yang saat itu di rajai oleh Darma Wangsa sedang mengalami pertempuran hebat. Dalam peperangan itu Singosari mengalami kekalahan dalam peperangan. Salah seorang keluarga kerajaan yang bernama Wangsa Yudha melarikan diri dan sampailah di sebuah alas atau hutan yang nantinya akan menjadi sebuah desa.
Sesampainya di hutan ini,Wangsa Yudha membangun sebuah gubuk,untuk dia berteduh dan beristirahat. Di dalam cerita ini,tidak diketahui siapa nama istri Wangsa Yudha,dan pada saat itu Wangsa Yudha mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama juga tidak diketahui namanya dan anak yang kedua bernama Kaki Popo (Kakek Popo). Wangsa Yudha akhirnya babad alas,mendirikan suatu desa dan banyak orang-orang yang bermukim di desa itu dan sudah mulai tambah ramai bangunan-bangunan gubugan di desa itu.
Pada waktu Wangsa Yudha sedang mengitari desa untuk mengetahui batas-batas wilayah yang di bangunnya. Wangsa Yudha bertemu dengan seorang janda kaya dari Desa Beji (Banjarkerta). Entah apa yang terjadi pada masa itu,janda kaya yang beranak satu itu di peristri oleh Wangsa Yudha dan dibawa ke pemukimannya janda itu beserta anaknya yang bernama Kaki Lulung (Kakek Lulung).
Pada masa itu,mengingat telah banyaknya desa disana,akhirnya Wangsa Yudha membuat patok (batas desa) yang ditanami pohon pisang. Semua patok itu ditanami pohon pisang ,karena mungkin itu yang termudah pada masanya. Oleh karena itu desa itu disebut Karang Gedang. Karang berarti tanah (Pekarangan),Gedang (Pisang) Pekarangan yang ditanami pohon pisang. Dan yang menjadi pemimpin/kepala desa yaitu Wangsa Yudha pada pertama kalinya.
Merasa Wangsa Yudha sudah cukup untuk memimpin Desa,Wangsa Yudha berniat untuk menjadikan anaknya yang pertama (tidak diketahui namanya) untuk menjadi gantinya,pemimpin desa. Tapi ternyata Kaki Lulung atau anak dari istri kedua Wangsa Yudha berambisi untuk menjadi pemimpin desa itu. Sampai akhirnya merencanakan suatu pembunuhan kepada anak pertama Wangsa Yudha,terlaksanakanlah rencana Kaki Lulung,yang pada waktu itu pembunuhan dilaksanakan di sebuah mata air,yang sekarang dinamakan Kali Braja (Sungai Braja),kali tempat pembunuhan.
Wangsa Yudha sangat terpukul,dan memerintahkan anaknya yang kedua yaitu Kaki Popo untuk mencari pembunuh kakaknya sendiri,tapi malah Kaki Popo merasa ketakutan sendiri dan akhirnya melarikan diri ke Desa Siwarak (Karangreja). Mungkin Wangsa Yudha dengan kesaktiannya sudah mengetahui siapa pembunuh anaknya. Tapi dijadikan rahasia dan menggantikan dirinya sebagai kepala desa ialah Kaki Lulung,anak dari janda kaya yang diperistri Wangsa Yudha dari Desa Beji